Masa Depan Papua Barat Sebagai Provinsi Konservasi Tahun 2016

Masa Depan Papua Barat Sebagai Provinsi Konservasi Tahun 2016

Jumat, 16 Maret 2018, 15:02 WIB

Saat ini adalah tahun 2030. Sebagai Provinsi Konservasi, Papua Barat memiliki sumber daya alam yang melimpah dan kaya akan keanekaragaman budaya. Populasi penduduk sebesar 2,5 juta jiwa merupakan modal sumber daya manusia yang pontesial. Sementara, pertumbuhan ekonomi sebesar 9% melebihi rata-rata nasional yang sebesar 7%. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Papua Barat menembus angka Rp 2,5 triliun, dan angka kemiskinan menurun sebesar 10%. Kondisi tersebut dicapai dengan membangun ekonomi yang berbasis pada lingkungan yang lestari, dengan kegiatan-kegiatan ekonomi seperti ekowisata, wisata budaya, wisata bahari, wisata religi, dan pemanfaatan sumber daya air untuk peningkatan pendapatan masyarakat, terutama pemilik hak ulayat.

Penanaman modal akan didorong ke sektor pariwisata berbasis lingkungan dan budaya melalui instrumen subsidi dan insentif pajak di sektor tersebut. Pada saat yang sama, investasi akan disertai dengan syarat pelibatan masyarakat lokal dalam proses persiapan, pembangunan, dan pengelolaan aset-aset pariwisata. Sebagian keuntungan juga didistribusikan kembali ke masyarakat lokal dalam bentuk pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelatihan kewirausahaan. Sektor lain seperti pertanian dan industri kecil rumah tangga juga menerima dampak pengganda dari tumbuhnya pariwisata, dengan memasok makanan dan kerajinan tangan.

Keanekaragaman hayati yang tinggi juga menjadi daya tarik bagi komunitas riset internasional, di mana pemerintah dan perguruan tinggi di Papua Barat menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian internasional untuk melakukan penelitian di tanah Papua Barat. Penelitian akan melibatkan secara aktif peneliti lokal, dalam rangka peningkatan kapasitas. Kegiatan-kegiatan penelitian yang berlangsung juga diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya dan aset pariwisata lokal untuk kebutuhan logistiknya.

Efek negatif dari pariwisata seperti tergesernya budaya lokal terutama di generasi muda memang terjadi, namun diminimalisir dengan penguatan nilai-nilai budaya melalui pendidikan formal dan kegiatan-kegiatan budaya yang diadaptasi sesuai dengan kehidupan modern generasi muda, yang mendorong kecintaan pada nilai-nilai budaya Papua Barat. Aturan-aturan mengenai regulasi minuman keras dan narkoba juga telah ditetapkan di provinsi ini.

Pemanfaatan sumber daya air difokuskan pada pemenuhan kebutuhan energi dan air bersih seperti mikrohidro, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar dan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sementara pelestarian daerah aliran sungai (DAS) dan daerah tampungan air dilakukan melalui mekanisme payment for environmental services (PES) di mana pengguna di hilir (seperti industri dan PDAM) membayar kompensasi kepada kelompok masyarakat di hulu untuk terus menjaga kelestariannya.

Kegiatan ekonomi yang berbasis pada ekstraksi sumber daya alam masih berlangsung, namun dengan regulasi daerah yang dijalankan dengan konsisten dan kuat. Melalui tata ruang wilayah yang baik, pemerintah menetapkan wilayah-wilayah yang terbatas namun strategis untuk lokasi kegiatan pertambangan mineral dan migas, maupun industri kayu. Pada saat yang sama, industri skala kecil dan menengah yang berbasis pada hasil hutan bukan kayu (HHBK) sudah berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat. Aset HHBK seperti gaharu, masohi, rotan, bambu, tanaman obat, damar, sagu, buah merah, lawang, kayu putih, dan lainnya sudah lebih dulu diidentifikasi, dihitung nilai ekonominya, dan disiapkan strategi untuk produksi dan pemasarannya.

Daya saing masyarakat lokal menjadi kunci bagi berkembangnya ekonomi berbasis lingkungan. Pendidikan formal akan diarahkan kepada penumbuhan karakter mandiri dan wirausaha, sekaligus mengenalkan budaya dan tradisi kepada generasi muda. Kurikulum lokal yang ada mencakup topik kewirausahaan, budaya, dan pengembangan karakter, kemandirian dan disiplin. Selain itu pendidikan formal kejuruan yang mendukung pariwisata tersedia di setiap kabupaten/kota dengan kualitas yang terus ditingkatkan. Pada saat yang sama, Dinas Pariwisata Papua Barat berhasil memperjuangkan beberapa budaya lokal sebagai warisan budaya nasional dan ikut mendorong kegiatan pariwisata melalui program skala provinsi seperti pagelaran seni, gelar tikar adat, dan dokumentasi budaya lewat berbagai media populer maupun tradisional (seperti Henjapti, nyanyian untuk meneruskan nilai-nilai budaya di Arfak).

Selain budaya dan tradisi, hak masyarakat adat juga dilindungi lewat telah dipetakannya wilayah, aturan, dan kelembagaan adat di Papua Barat. Pemetaan didanai oleh pemerintah dan dikerjakan oleh perguruan tinggi bersama lembaga masyarakat sipil.

Share: